29.8.2026. Pupuan, Tegallalang, Gianyar Sebanyak 34 mahasiswa Universitas Mahasaraswati Denpasar (Unmas) menjalankan program pengabdian kepada masyarakat selama 36 hari ,sejak 20 juli hingga 24 Agustus 2026 lalu di Desa Pupuan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar,Bali.

Program ini menyasar tiga kebutuhan mendesak warga, yakni: penanda titikkumpul evakuasi, petunjuk arah menuju lokasi evakuasi tanah longsor, dan pembuatan lubang resapan biopori untuk mendukung penyerapan air serta pengelolaan sampah organik.
Desa Pupuan dikenal dengan lanskap pedesaan yang beragam, mulai dari persawahan,tegalan, permukiman, hingga potensi wisata alam. Namun di balik potensi tersebut, tim pengabdian menemukan sejumlah persoalan dari hasil observasi lapangan. Informasi mengenai titik kumpul evakuasi di Kantor Desa dinilai belum jelas, sementara kawasan berlereng yang rawan longsor juga minim penunjuk arah menuju lokasi evakuasi. Di sisi lain,kondisi lingkungan permukiman turut memerlukan upaya sederhana untuk meningkatkan daya serap air tanah.
Berangkat dari temuan tersebut, kegiatan difokuskan pada tiga langkah nyata yang dikerjakan secara bertahap;
mulai dari observasi dan identifikasi kebutuhan, persiapan alat dan bahan,hingga pemasangan langsung di lokasi yang telah ditentukan.
Plang Titik Kumpul di Kantor Desa ,Langkah pertama adalah pembuatan dan pemasangan plang titik kumpul evakuasi di Kantor Desa Pupuan. Plang ditempatkan di lokasi yang mudah terlihat agar warga dapat dengan cepat mengenali tempat berkumpul saat terjadi keadaan darurat, khususnya akibat bencana tanah longsor. Keberadaan penanda ini diharapkan menjadi acuan yang jelas bagi warga setelah melakukan evakuasi.

Proses pemasangan dan hasil plang titik kumpul evakuasi di Kantor Desa Pupuan.Plang Petunjuk Arah Evakuasi Tanah Longsor ;
Langkah kedua berupa pembuatan dan pemasangan plang petunjuk arah menuju titik evakuasi tanah longsor. Plang ini dipasang di kawasan yang membutuhkan informasi jalur evakuasi, dengan desain yang sederhana agar mudah dipahami dalam waktu singkat.Penempatan plang turut memperhatikan posisi dan keterlihatannya, mengingat karakteristik rambu berpengaruh terhadap kemampuan warga memahami dan mengikuti arah evakuasi saat kondisi darurat.Plang petunjuk jalur evakuasi yang dipasang di kawasan rawan longsor.
Lubang Resapan Biopori ;Langkah ketiga adalah pembuatan lubang resapan biopori di titik-titik yang telah ditentukan berdasarkan kondisi lingkungan sekitar. Teknologi sederhana ini dipilih karena mampu meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah sekaligus memanfaatkan sampah organik sebagai bahan yang terurai di dalam lubang. Selain menjadi sarana fisik, kegiatan ini juga menjadi langkah edukatif bagi warga untuk mulai peduli terhadap pengelolaan sampah organik dan konservasi air di lingkungan permukiman.
Proses pembuatan lubang resapan biopori oleh tim pengabdian bersama warga,Diharapkan Dirawat dan Berkelanjutan ,Ketiga kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai sarana fisik semata, melainkan terus dimanfaatkan dan dirawat secara mandiri oleh masyarakat. Plang titik kumpul dan petunjuk evakuasi perlu dijaga agar tetap terlihat jelas dan berfungsi optimal saat dibutuhkan,sementara lubang resapan biopori disarankan dirawat secara berkala dan dapat dikembangkan ke lokasi lain yang sesuai.
I Wayan Sumatra selaku perbekel setempat juga menyampaikan,"Terimakasih kepada para mahasiswa yang turut serta perduli terhadap desa ini serta Pemerintah desa bersama warga diajak untuk terus menjaga sarana yang telah tersedia, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang, baik untuk kesiapsiagaan bencana maupun kelestarian lingkungan Desa Pupuan."
bali-inspirasi