Kayu Mas Kopi,22 mei 2026.Sinergi Hulu Hilir: Dinas Perkebunan Jatim Kunjungi Warung Kopi Kayu Mas Situbondo
Angin pagi Situbondo yang membawa aroma garam dan rempah tiba-tiba bercampur dengan wangi kopi Kayu Mas yang baru diseduh. Di sudut Warung Kopi Kayu Mas yang biasanya ramai oleh tukang ojek dan pedagang pasar, pagi itu mendapat tamu istimewa. Tim monitoring dan evaluasi kegiatan hulu hilir dari Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur datang langsung untuk melihat bagaimana kopi yang mereka bina dari kebun bisa sampai ke secangkir yang dinikmati masyarakat.
Kunjungan ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah bagian dari program penguatan rantai nilai komoditas perkebunan Jawa Timur, yang ingin memastikan bahwa petani, pengolah, hingga pelaku UMKM seperti kopi Kayu Mas benar-benar terhubung dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

Dari Kebun ke Cangkir, Rantai yang Harus Nyambung
Tim Dinas Perkebunan Jatim yang dipimpin langsung oleh Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan memulai kegiatan dengan diskusi ringan di meja kayu panjang warung. Di atas meja, tersaji kopi arabika Situbondo yang diproses semi-washed, hasil sangrai medium, dan diseduh dengan metode tubruk khas lokal.
“Program hulu hilir ini tujuannya satu: jangan sampai petani kopi bekerja keras di kebun, tapi nilai tambahnya berhenti di tengkulak. Kita ingin petani, kelompok pengolah, dan UMKM seperti kopi Kayu Mas punya akses dan keuntungan yang adil,” jelas salah satu perwakilan Dinas.
Monitoring ini mencakup beberapa aspek. Di hulu, tim mengecek asal bahan baku: apakah kopi berasal dari petani binaan Dinas Perkebunan, bagaimana kualitas panen, dan apakah sudah menerapkan GAP – Good Agricultural Practices. Di hilir, fokusnya pada proses pasca panen, sangrai, pengemasan, hingga strategi pemasaran yang dilakukan Kopi Kayu Mas.
Didik, pemilik Warung Kopi Kayu Mas, dengan antusias menjelaskan proses yang ia jalankan. “Kopi yang saya pakai 80% dari petani di Kecamatan Asembagus dan Banyuputih. Saya beli langsung ke kelompok tani, jadi harganya lebih layak. Di sini saya sangrai sendiri pakai roasting manual, biar karakter tanah Situbondo-nya nggak hilang,” ujarnya sambil menunjukkan ruang sangrai kecil di belakang warung.
Kopi Kayu Mas: Bukti UMKM Bisa Jadi Jembatan
Warung Kopi Kayu Mas bukan kedai kopi modern dengan desain estetik ala kota besar. Tempatnya sederhana, dindingnya penuh coretan pelanggan, dan aroma kayu bakar masih terasa dari proses sangrai. Tapi justru di situlah kekuatannya. Kopi Kayu Mas menjadi contoh nyata bagaimana UMKM bisa menjadi jembatan antara petani kecil di desa dan konsumen di kota.
Dalam setahun terakhir, kopi Kayu Mas menyerap lebih dari 2 ton kopi hijau dari petani binaan. Selain dijual sebagai kopi seduh di warung, mereka juga mulai mengemas kopi bubuk dengan label “Kayu Mas Kopi” yang kini sudah masuk ke beberapa toko oleh-oleh dan minimarket lokal.
“Bagi saya, kopi ini bukan cuma dagangan. Ini tentang cerita petani yang bangun jam 4 pagi, tentang tanah Situbondo yang panas tapi subur, dan tentang orang-orang yang duduk di sini ngobrol sambil ngopi. Kalau rantai ini putus, semua cerita itu hilang,” kata Didik.
Ia mengaku proses menjadi bagian dari rantai hulu hilir tidak mudah. Awalnya sulit menjaga konsistensi kualitas karena petani belum terbiasa dengan standar pasca panen. Namun setelah mendapat pelatihan dari Dinas Perkebunan dan pendampingan dari penyuluh lapangan, kualitas perlahan naik. Harga yang diterima petani pun ikut terdongkrak 15-20% dibanding harga pasar biasa.
Apresiasi dan Harapan untuk Kolaborasi Lanjutan
Di akhir kunjungan, tim Dinas Perkebunan melakukan evaluasi langsung di lokasi. Beberapa catatan diberikan: perbaikan sistem pencatatan stok, standar kebersihan ruang sangrai, dan potensi sertifikasi PIRT untuk memperluas pasar. Namun secara umum, model kolaborasi yang dijalankan Kayu Mas dinilai positif dan bisa direplikasi di daerah lain.
Didik selaku pemilik warung kopi Kayu Mas menyampaikan apresiasinya atas kunjungan ini. “Saya sangat berterima kasih Dinas Perkebunan Jatim mau turun langsung ke warung kecil seperti kami. Ini bukan cuma soal inspeksi, tapi rasanya seperti dapat dukungan dan semangat baru. Buat saya, ini kolaborasi untuk ke depan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa UMKM seperti Kopi Kayu Mas adalah harapan masa depan bangsa Indonesia. “Kalau UMKM kuat, petani nggak bingung mau jual ke mana. Anak muda juga nggak perlu jauh-jauh merantau. Cukup olah potensi daerah sendiri, nilai tambahnya tetap di sini. Pemerintah yang turun tangan bantu dari hulu sampai hilir itu kunci,” tegas Didik.
Langkah Berikutnya: Penguatan Ekosistem
Dari kunjungan ini, Dinas Perkebunan Jatim merancang beberapa tindak lanjut. Pertama, memfasilitasi Kayu Mas Kopi untuk mengikuti pelatihan pengemasan dan branding agar bisa masuk pasar yang lebih luas. Kedua, menghubungkan Kayu Mas Kopi dengan program fasilitasi sertifikasi halal dan PIRT. Ketiga, menjadikan Kopi Kayu Mas sebagai salah satu titik contoh dalam program Kopi Rakyat Jatim untuk studi banding UMKM lain.
Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan menyatakan bahwa pendekatan seperti ini akan terus diperkuat. “Kita tidak bisa hanya fokus di hulu. Kalau hilirnya lemah, petani tetap rugi. Kayu Mas menunjukkan bahwa dengan kemauan dan dukungan yang tepat, UMKM lokal bisa jadi penggerak ekonomi desa.”
Kunjungan ditutup dengan sesi ngopi bersama. Tim Dinas, Didik, dan beberapa petani yang kebetulan datang duduk melingkar, mencicipi hasil panen mereka sendiri yang sudah berubah menjadi secangkir kopi panas. Obrolan mengalir tentang rasa, harga, dan mimpi-mimpi kecil yang ingin diwujudkan.
Di Situbondo hari itu, monitoring dan evaluasi tidak terasa seperti rutinitas birokrasi. Ia menjadi ruang temu antara kebijakan dan realitas di lapangan, antara pemerintah dan pelaku usaha kecil, antara kebun dan cangkir.
Dan di meja kopi Kayu Mas, terlihat jelas bahwa ketika rantai hulu hilir benar-benar nyambung, yang tumbuh bukan hanya kopi. Yang tumbuh adalah harapan, kolaborasi, dan keyakinan bahwa ekonomi kerakyatan masih punya tempat untuk berkembang.bali-inspirasi